Senin, 27 April 2015

MAHASISWA BERPRESTASI

Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang berprestasi, tetapi menurut saya mahasiswa yang berprestasi bukan hanya sukses dalam bidang pendidikan, namun juga dalam organisasi ruang lingkup kehidupannya. Dalam konteks akademik, mahasiswa mempunyai tanggung jawab terhadap almamaternya maupun terhadap diri sendiri dan orang tua agar kuliahnya menghasilkan predikat memuaskan dan tepat waktu.Sisi lain mahasiswa mempunyai label ”agent social of change” yang juga tak kalah pentingnya dilakukan. Kondisi ini masuk pada ranah kedudukan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan predikat ini sudah mengakar pada masyarakat umum bahwa mahasiswa merupakan garda terdepan dalam menatap perubahan masa depan bangsa.
Pada tataran tanggung jawab akademik mahasiswa dihadapkan pada kehidupan masa depan mereka. Selesai kuliah, bekerja atau menambah daftar pengguran terdidik? Artinya, pada wilayah ini mahasiswa bersentuhan yang namanya dunia kerja. Bicara dunia kerja terkait dengan kemampuan akademik dan IPK. Bagi mahasiswa yang memiliki kesadaran sosial (social awareness), paradigma yang dibangun adalah selain belajar juga diimbangi (balance) dengan kegiatan sosial, dengan harapan mereka dapat melaksanakan label yang selama ini dimiliki mahasiswa, yaitu sebagai agen perubahan sosial. Pada konteks ini mahasiswa dihadapkan problem benturan aturan akademik yang mengekang kreativitas mahasiswa.
Dari dua dimensi tanggung jawab itulah, kemudian melahirkan beberapa tipikal mahasiswa. Pertama, Mahasiswa akademik ansich. Mahasiswa model ini biasanya rajin ke kampus. Ada yang menyebutnya mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang), mahasiswa segi tiga K (Kuliah, Kantin, dan Kos). Datang tepat waktu, semua tugas dikerjakan, catatan lengkap, dan manut pada dosen. biasanya diakhir semester menjadi incaran banyak mahasiswa untuk sekedar memfotokopi bahan kuliah dan dijadikan mitra menjawab soal UAS. Mahasiswa berkarakter tadi masih termasuk mahasiswa tipe pertama yang sering disebut mahasiswa anak dosen, karena tipe mahasiswa seperti itu biasanya diambil menjadi asdos, selesai melanjutkan akademik, kemudian menjadi dosen.
Dari beberapa paparan fakta dan data di atas, nampaknya dari berbagai kalangan (mahasiswa, dosen, pihak birokrasi kampus dan pemerintah) tidak punya alasan lagi untuk segerah mengimplementasikan diskursus keseimbangan Akademik dan Ekstra. Dalam kerangka ini ada tipikal mahasiswa ketiga, adalah mahasiswa aktivis yang akademis. Pada tipe ini mahasiswa memiliki kesadaran akademik (academic awareness) sekaligus kesadaran sosial. Atau kata lain tipe ketiga ini hasil dari antitesis antara mahasiswa akademik ansich dan mahasiswa aktivis. Mahasiswa ini menganggap kuliah juga harus diselesaikan. Tipe mahasiswa ini memiliki kelebihan dintara tipe mahasiswa pertama dan kedua. Basic keilmuan yang dibangun tidak sebatas diruang kuliah saja.
Tipe ini adalah format mahasiswa ideal–keseimbangan intra dan ekstra atau akademik dan organisasi–yang sangat relevan dan dibutuhkan dalam membangun Bangsa Inodonesia kedepan. Oleh karena itu masih tergolong sulit menemukan mahasiswa tipikal seperti ini. Meminjam bahasanya Andreas Harefa, tipikal mahasiswa ini disebut mahasiswa pembelajar. Seorang mahasiswa yang terus-menerus belajar, baik dalam meraih prestasi akademik juga dengan belajar membangun kepekaan sosial (sensitivity of social) lewat aktivitas organisasi baik di dalam dan atau pun luar kampus.
Ada anggapan menyesatkan bahwa organisasi itu mengganggu kuliah. Jika ada dosen yang berkata demikian, dipastikan orangnya tidak pernah berproses didunia oraganisasi. Saya pikir tergantung individu masing-masing, persolannya bukan karena organisasi, tapi faktor pelakunya. Pengalaman penulis pernah mengikuti lima organisasi dikampus dan luar kampus dalam waktu yang bersamaan memegang tanggung jawab tiga organisasi, ternyata bisa menyeimbangkan kuliah dan organisasi. Jadi tidak ada alasan bahwa organisasi mengganggu kuliah.
Apakah sulit untuk mengimbangkan akademik dengan bersosialisasi? Sebenarnya tidaklah begitu sulit menjadi mahasiswa aktivis-akademis. Hanya dibutuhkan manajemen waktu yang disiplin dan tahan banting dalam menghadapi tantangan hidup. Menjadi mahasiswa yang akademik dan memiliki segudang kegiatan tidak merugikan masa depan kita. Dalam pandangan ilmu kesehatan bahwa otak yang terbiasa banyak agenda kegiatan dan sering merasakan stres, loncatan suksesnya lebih besar. Dari pada orang yang hanya mempunyai kebiasaan kuliah-kos, maka otaknya akan terbatas hanya sampai diruang itu-itu saja.
========================================================================
gaya bahasa yang di gunakan :
1. kalimat berkompilasi : Sebenarnya tidaklah begitu sulit menjadi mahasiswa aktivis-akademis. Hanya dibutuhkan manajemen waktu yang disiplin dan tahan banting dalam menghadapi tantangan hidup. Menjadi mahasiswa yang akademik dan memiliki segudang kegiatan tidak merugikan
2. Kalimat bervariasi pertanyaan : Apakah sulit untuk mengimbangkan akademik dengan bersosialisasi? Pada tataran tanggung jawab akademik mahasiswa dihadapkan pada kehidupan masa depan mereka. Selesai kuliah, bekerja atau menambah daftar pengguran terdidik?
3.  Kalimat bervariasi pernyataan : Pada tipe ini mahasiswa memiliki kesadaran akademik (academic awareness) sekaligus kesadaran sosial. Atau kata lain tipe ketiga ini hasil dari antitesis antara mahasiswa akademik ansich dan mahasiswa aktivis.
4.  Kalimat berepetisi bentuk : Dalam pandangan ilmu kesehatan bahwa otak yang terbiasa banyak agenda kegiatan dan sering merasakan stres, loncatan suksesnya lebih besar
5.  Kalimat berkonstruksi Idiomatik : Tipe ini adalah format mahasiswa ideal–keseimbangan intra dan ekstra atau akademik dan organisasi–yang sangat relevan dan dibutuhkan dalam membangun Bangsa Inodonesia kedepan.
Reff :

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Followers

Pages - Menu

Popular Posts